Sabtu, 19 Juni 2010

Kabupaten Wonogiri






Wonogiri, (bahasa Jawa: wanagiri, secara harfiah "Hutan di Gunung"), adalah sebuah daerah kabupaten di Jawa Tengah. Secara geografis lokasi Wonogiri berada di bagian tenggara Provinsi Jawa Tengah. Bagian utara berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Sukoharjo, bagian selatan langsung di bibir Pantai Selatan, bagian barat berbatasan dengan Wonosari di provinsi Yogyakarta, Bagian timur berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Timur, yaitu Kabupaten Ponorogo dan Kabupaten Pacitan. Ibu kotanya terletak di Wonogiri Kota. Luas kabupaten ini 1.822,37 km² dengan populasi 1,5 juta jiwa.


Sejarah

Sejarah berdirinya Kabupaten Wonogiri dimulai dari embrio "kerajaan kecil" di bumi Nglaroh Desa Pule Kecamatan Selogiri. Di daerah inilah dimulainya penyusunan bentuk organisasi pemerintahan yang masih sangat terbatas dan sangat sederhana, dan dikemudian hari menjadi simbol semangat pemersatu perjuangan rakyat. Inisiatif untuk menjadikan Wonogiri (Nglaroh) sebagai basis perjuangan Raden Mas Said, adalah dari rakyat Wonogiri sendiri ( Wiradiwangsa) yang kemudian didukung oleh penduduk Wonogiri pada saat itu.

Mulai saat itulah Ngalroh (Wonogiri) menjadi daerah yang sangat penting, yang melahirkan peristiwa-peristiwa bersejarah di kemudian hari. Tepatnya pada hari Rabu Kliwon tanggal 3 Rabi'ul awal (Mulud) Tahun Jumakir, Windu Senggoro: Angrasa retu ngoyang jagad atau 1666, dan apabila mengikuti perhitungan masehi maka menjadi hari Rabu Kliwon tanggal 19 Mei 1741 ( Kahutaman Sumbering Giri Linuwih), Ngalaroh telah menjadi kerajaan kecil yang dikuatkan dengan dibentuknya kepala punggawa dan patih sebagai perlengkapan (institusi pemerintah) suatu kerajaan walaupun masih sangat sederhana. Masyarakat Wonogiri dengan pimpinan Raden Mas Said selama penjajajahan Belanda telah pula menunjukkan reaksinya menentang kolonial.

Jerih payah pengeran Samber Nyawa ( Raden Mas Said ) ini berakhir dengan hasil sukses terbukti beliau dapat menjadi Adipati di Mangkunegaran dan Bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya ( KGPAA) Mangkunegoro I. Peristiwa tersebut diteladani hingga sekarang karena berkat sikap dan sifat kahutaman ( keberanian dan keluhuran budi ) perjuangan pemimpin, pemuka masyarakat yang selalu didukung semangat kerja sama seluruh rakyat di Wilayah Kabupaten Wonogiri.


Pariwisata

Di Kabupaten Wonogiri terdapat banyak tempat wisata yang bisa dikunjungi. Baik wisata spiritual, petualangan, wisata alam dan lain sebagainya. Di antaranya obyek wisata Waduk Gajah Mungkur, wisata ganthole.

Terdapat sebuah situs bersejarah bernama "Kahyangan" di dusun Dlepih, Tirtomoyo, yang jaraknya kurang lebih 47 km dari ibu kota kabupaten Wonogiri.

Dari Kota Wonogiri, pengunjung bisa naik bus dari terminal bus giriwono dan naik minibus dari dekat ponten (dekat Kantor Badan Pertanahan), jurusan Tirtomoyo. Dari Tirtomoyo, bisa naik angdes jurusan Kahyangan atau Sukarjo. Sampai sekarang belum ada angdes yang bisa masuk sampai Kahyangan, sehingga harus dilanjutkan jalan kaki sekitar 1 Km. Pengunjung berkendaraan bisa langsung sampai ke tempat parkir Kahyangan.

Sebetulnya desa Taman dulunya merupakan sentra batik tulis, yang produknya banyak disetorkan ke Solo, untuk diproses lanjut. Banyak warga desa yang bergerak di bidang yang berhubungan dengan batik, baik sebagai pembatik, pembuat patron, pemasok kain mori. Akan tetapi, seiring dengan diperkenalkannya teknik pembuatan genting press, yang hasilnya cepat diperoleh, maka semakin lama industri batik semakin tergeser.

Sesampai di Kahyangan, pengunjung akan mendapati goa yang terletak di atas kedung. Konon, tempat itu sebagai tempat bersemedinya Danang Suto Wijoyo, atau yang dikenal dengan Panembahan Senopati, raja pertama kerajaan Mataram Islam. Selain itu, terdapat pula air terjun, dan puncak Kahyangan yang konon merupakan tempat di mana Sutowijoyo menemuai Kanjeng Ratu Kidul, sehingga bagi yang percaya tahyul, dilarang memakai baju yang berwarna hijau.

Tempat itu sangat ramai di malam menjelang pergantian tahun Jawa (bulan Suro). Banyak pendatang dari luar daerah, terutama dari daerah Yogyakarta, untuk bertirakatan di sana. Di hari-hari biasa, terutama malam Jumat Kliwon, biasanya banyak dikunjungi orang-orang dari luar daerah, yang mengadakan syukuran atas keberhasilan yang telah dicapai di tempat perantaunnya, dengan mengundang warga sekitar.

Tempat Wisata Lain:

Obyek Wisata Sendang
Girimanik
Pantai Sembukan
Pantai Nampu
Musium Wayang Kulit
Cagar Alam Danalaya
Gua Ngantap
Sendang Siwani
Gua Putri Kencono
Gua Musium karst
Jala karamba


Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Wonogiri

Sumber Gambar:

(Peta Wonogiri)
http://abjateng.net46.net/peta.php?k=wonogiri

(Peta Jawa Tengah)
http://3.bp.blogspot.com/_z01-6m-Vs9w/S64cVbOVY5I/AAAAAAAAAQ4/1McFBQgqE8c/s1600/jawa+tengah.png

http://bismania.org/buletin/berita-pengumuman-kegiatan/tour-de-wonogiri/

http://wonogirinews24.blogspot.com/2008/02/iklan-rokok-mengepung-kota-wonogiri.html

http://nurypuspa.files.wordpress.com/2009/11/2007072509480903_gajahmungkur-161.jpg

Jumat, 18 Juni 2010

Peta Wonogiri


View Larger Map

Belajar Membangun dari Wonogiri

MINGGU lalu lalu Kabupalen Wonogiri menggelar sambutan berbudaya atas kunjungan Menko Kesra Agung Laksono dengan cara yang menarik.

Pada jajaran pertama Menko yang lama menjabat sebagai Ketua DPR RI itu disuguhi ucapan selamat datang oleh rombongan Reyok Ponorogo, yang konon Ketua Paguyubannya dipercayakan kepada Bupati Wonogiri, H Begug Purnomosidi.

Setelah Itu Menko yang didampingi oleh isteri, Deputi Menko dan staf itu diajak melihat kiprah rakyat Wonogiri berupa produk-produk koperasi primer yang jumlahnya telah mencapai hampir 7000 kelompok, atau praktis secara hukum telah ada di setiap RT di Wonogiri.

Produk-produk yang menarik itu digarap oleh sumber daya manusia dari Wonogiri yang terkenal kreatif dan menyebar di kota-kota besar seperti Jakarta dan kota lainnya di Indonesia. Mereka juga menjadi tenaga kerjayang bermutu di manca negara.

Penduduk Wonogiri konon hanya boleh bekerja di luar negeri kalau mengantongi sertifikat pelatihan ketrampilan yang dikeluarkan oleh Dinas atau Instansi yang berwewenang.

Karena itu Bupati dengan penuh kebanggaan menyebutkan bahwa TKI dari Wonogiri pada umumnya mendapat perlakuan yang baik karena datang dengan keahlian ya.ng dibutuhkan oleh pasar nasional maupun internasional.

Pencapaian Bupati tersebut bukan seluruhnya barang baru. Tetapi setiap Bupati sanggup menganggap pendahulunya pantas diteladani dan diteruskan upayanya.

Sepuluh limabelas tahun lalu, pada waktu tenaga kerja Wonogiri makin marak dan bekerja sebagai pengusaha jamu atau kerja lainnya di Jakarta, penduduk Wonogiri bersedia

berkenalan dengan sistem pulang ber-
s.iin.i

BKKBN bekerja sama dengan Bank BRI mengeluarkan Cek Perjalanan yang dijual di stasiun kereta api atau bus kepada penduduk yang pulang kampung. Cek Perjalanan tersebut, dengan kerjasama pemerintah setempat, bisa diuangkan pada Bank, atau langsung dibelanjakan pada toko-toko yang ikut serta dalam program ini.

Pada waktu itu penggunaan kartu kredit belum marak seperti sekarang, tetapi penduduk Wonogiri telah berani melakukan langkah-langkah modern dalam mengamankan keuangannya melalui sistem giral.

Praktek itu sekarang bertambah maju karena penggunaan bank untuk mengirim remitan dari luar negeri atau penggunaan kartu kredit bagi penduduk yang mempunyai tabungan. Karena kegiatan warga yang tinggi, desa-desa di Wonogiri disulap berwajah kota dengan rumah dan perabotan modern yang tidak kalah dibanding rumah penduduk kota.

Seperti juga ciri penduduk modern, penduduk Wonogiri mempunyai mobilitas yang sangat tinggi. Setiap hari puluhan bahkan ratusan mobil dan bus berangkat dan dalang di Wonogiri. Bus-bus ftu membawa orang atau anggota keluarga Wonogiri, dan Juga dagangan yang sudah diolah di Wonogiri.

Kota Wonogiri yang sederhana di masa lalu, sekarang berubah seakan kota metropolitan dengan satu pengecualian yang membesarkan hati

rakyat.

Di Wonogiri tidak ada Mall-mall besar karena pemerintah Kabupaten tidak ingin rakyat yang bekerja keras dan berdagang dengan cara tradisional yang akrab kehilangan budaya kebersamaan, budaya tawar menawar, budaya saling membantu dan memberikan korting karena hasil negosiasi yang akrab dan penuh kekeluargan. Wonogiri bertahan dari godaan global berupa pasar modern Mall yang tidak mengetengahkan hubungan antar manusia dari si penjual dan si pembeli.

Sambutan awal untuk Menko Kesra berupa tarian Rcyok disusul tarian Bedoyo sakral yang dilarikan hanya oleh anak-anak gadis yang masih suci yang dengan lembut mempesona sebagai bukti bahwa masyarakat Wonogiri bisa perkasa seperti macan, tetapi juga bisa lembut penuh senyum, gemulai. bersuara merdu dan sejuk.

Dari kombinasi budaya masyarakat yang ditunjukkan hari itu bisa dibaca tuntunan yang tersirat yaitu adanya kesanggupan untuk bergerak dengan semangat pembangunan yang dinamik, dilandasi kebersamaan untuk maju, lembut berbudaya, atau kalau menghadapi tantangan, siap dan mampu mengusir lawan dengan taruhan jiwa dan kekuatan macan yang tidak ada tandingannya.

Kekuatan rangkap tersebut ditunjukkan oleh Bupati dengan program industri pertanian, jamu, peternakan dan kerajinan yang memberi kesempatan kepada setiap warga masyarakatnya untuk sejauh mungkin mengembangkan dinamika melalui usaha yang prosesnya dilakukan di Wonogiri agar nilai tambah dinikmati oleh masyarakat Wonogiri dengan penuh.

Kalau di masa lalu misalnya, sapi dikirim beratus ratus ke Jakarta dan kota besar lainnya, maka pembuatan

makanan dari daging sapi sekarang dikerjakan di Wonogiri.

Bakso untuk masyarakat kota misalnya, tidak lagi diolah di Jakarta atau Semarang, atau Surabaya, tetapi diolah dan dikirim hampir siap saji dari kampung yang bersih dan rakyatnya mahir menghasilkan makanan lezat yang siap dinikmati oleh masyarakat kota dengan lahap.

Kemampuan olah mengolah, kebersihan dan kesehatan itu dibuktikan bahwa Wonogiri masih termasuk penghasil Jamu tradisionil yang sangat terkenal.

Pabrik jamu Air Mancur yang sangat besar tetap bertahan di Wonogiri. Di luar pabrik tidak sedikit orang Wonogiri, juga Sukaharjo yang berdekatan dengan Wonogiri, menghasilkan jamu tradisional yang masih banyak digemari rakyat di seluruh Indonesia bahkan sampai manca negara.

Disamping itu Wonogiri sangat terkenal usahanya memelihara budaya peninggalan nenek moyang. Ketua Perkumpulan Reyok Ponorogo bukan dipegang oleh orang dari Ponorogo, tetapi dipercayakan kepada Bupati Wonogiri H Begug Purnomosidi yang dengan berani merangkul para penggemar Reyog dari manca negara untuk menghormati budaya bangsa tersebut.

Kesenian wayang kulit dikembangkan dengan sangat intens sehingga di kabupaten banyak kita dapati Sertifikat Juara Muri yang dihasilkan oleh kesenian dan kelanggengan budaya bangsa tersebut.

Melihat pencapaian itu kita pantas belajar dari Wonogiri. Kita perlu menyebar luaskan keberhasilan rakyat membangun tersebut ke seluruh pelosok tanah air. dan Wonogiri tetap harus tegar melanjutkan pembangunan berlandaskan semangat dan budaya bangsa
yang luhur itu. (Penulis adalah. Ketua Yayasan Daman diri, www.haryono.com)

Sumber :
Haryono Suyono, Harian Pelita 8 Februari 2010, dalam :
http://bataviase.co.id/node/87852
19 Juni 2010

Danyang Waranggana dari Wonogiri


DALAM sejarah, Wonogiri dikenal sebagai gudang para waranggana. Suara "kung" waranggana asal Ngadirojo, sebuah kota kecamatan kecil di selatan Wongiri, bahkan telah memikat telinga kanjeng Gusti Pangeran Adipati Mangkunegara VII hingga memutuskan memilih salah seorang di antara mereka sebagai istri. Adipati juga membuka jalan bagi para waranggana untuk unjuk suara di istana.

Begitu kuatnya pengaruh waranggana di Wonogiri, muncul satu cerita mitos yang dipercaya masyarakat hingga kini. Ki Widodo Wilis, seorang dalang dari dukuh Sumbersari, Purwosari, Wonogiri, menuturkan, konon, sebatang pohon jati dari hutan Donoloyo yang hendak dihanyutkan menuju istana Mangkunegaran, mogok saat melintas sungai di perbatasan Wonogiri-Solo. "Setelah dinyanyikan oleh sinden, kayu itu baru mau kembali melanjutkan perjalanan," tuturnya.

Suara sinden begitu dihargai oleh masyarakat. Bahkan, cerita kayu jati dari Donoloyo itu mentasbihkan kekuatan magis suara sinden yang dipercaya masyarakat setempat.

Sosok waranggana paling legendaris dari tlatah Wonogiri barangkali belum dapat diambil dari sang pesinden yang berhasil memikat Adipati Mangkunegara. Tapi itu dulu, di masa sang adipati berkuasa sekitar tahun 1900-an. Pascameredupnya kerajaan Mangkunegaran, sinden-sinden istana pun mulai mencari penghidupannya sendiri.

Di era 1970-an, nama Karni Conto patut dipertimbangkan. Suaranya yang halus dan jernih membuat pesinden asal Bulukerto itu menjadi waranggana paling populer kala itu. Selain Karni, ada pula nama Karmiyati yang berasal dari Segawe, Purwosari.

Sepuluh tahun terakhir, kata Sugiyantini, pesinden yang juga adalah istri dari Ki Widodo Wilis, tidak ada nama-nama yang terlalu menonjol. Tapi bukan berarti tidak ada proses regenerasi. "Regenerasi tetap berjalan. Saat ini, tercatat ada sekitar 200 pesinden yang masih aktif di Wonogiri," ujar Yanti--panggilan akrab Sugiyantini, sembari menambahkan gudang waranggana terbesar berasal dari Girimarto, sebuah kecamatan di lereng Gunung Lawu.

Wonogiri, kata Yanti, sampai saat ini masih cukup kondusif bagi kelangsungan kesenian lokal. Dukungan pemerintah setempat, terutama sang bupati yang juga adalah seorang dalang, membuat kehidupan kesenian, termasuk para waranggana, masih dapat berdenyut hingga sekarang.

Meski masih kondusif, para pesinden saat ini sudah semakin bersikap pragmatis. Kebanyakan mereka tak lagi menguasai gending-gending lagu Jawa. Alasannya, nada-nada pentatonis yang dipersyaratkan dalam gending jawa sulit ditaklukkan. "Mereka lebih nyaman bernyanyi campursari dengan nada-nada diatonis," ujar Ki Widodo.

Selain tingkat kesulitan yang tinggi, para pesinden sekarang juga memilih menyanyikan campursari karena lebih banyak peminat. "Bahkan, banyak pesinden yang akhirnya menelurkan album campursari," tandasnya.

Sinden-sinden Wonogiri, kini telah berubah dan berkembang sesuai zamannya. Mereka kini tak lagi terpaku pada laku duduk bertimpuh semalaman di belakang dalang. Namun, suara jernih nan nyaring mereka akan tetap terdengar di penjuru Wonogiri, bahkan semakin meluas melalui kaset-kaset rekaman yang beredar di seantero negeri.

(Farodlilah/CN12)

Sumber:
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/wanita/2010/04/30/886/Danyang-Waranggana-dari-Wonogiri
19 Juni 2010

Sejarah Watu Kosek, Wonogiri

Jika Anda pergi ke Wonogiri, akan ditemukan banyak sekali peninggalan terkait RM Said atau Pangeran Sambernyawa ataupun Mangkunegara I. Karena semangat pangeran itulah yang menjadi simbol dan semangat masyarakat Wonogiri, sehingga diketahui kapan berdirinya Kabupaten Wonogiri.

Berbagai peninggalan ditemukan di berbagai daerah di Wonogiri. Kecamatan Selogiri, merupakan daerah yang boleh dikata banyak ditemukan peninggalan tersebut. Salah satunya adalah Watu Kosek di Dusun Keloran, Desa Keloran, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Menurut Ketua Himpunan Kerabat Mangkunegaran Suryosumirat Cabang Selogiri, Mulyanto Skar, keberadaan Watu Kosek tidak bisa dilepaskan dari perjuangan RM Said.

Seperti namanya, Watu (batu) Kosek berarti batu tempat mengasah pusaka ataupun mata batin RM Said. Untuk melihat wujud Watu Kosek masyarakat masih bisa, karena dijadikan monumen oleh masyarakat setempat. Untuk ke lokasi, warga harus menempuh jarak sekitar 8 km arat barat laut atau sekitar 100 meter dari lokasi Sendang Sinangka. Konon, ujar Mulyanto yang kini sebagai pegawai di Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (DKPPO) Wonogiri, di saat Pangeran Sambernyawa dikejar oleh tentara Belanda, karena berani memberontak, bersama pasukannya yang berjumlah 40 orang atau dikenal dengan sebutan Pasukan Kawan Dasa Jaya, berdiam di tempat tersebut.

Tempat itu oleh Pangeran Sambernyawa dinilai dari mata batin mempunyai aura tinggi. “Saat berhenti bersama pasukannya itu, Pangeran Sambernyawa melihat buah nangka. Karena lapar, buah itu akan dimakan bersama pasukannya. Tapi, keanehan terjadi. Saat akan dibelah dengan senjata apapun buah nangka itu tidak bisa. Akhirnya, Pangeran Sambernyawa dengan mata batinnya, menemukan batu yang bisa dipakai untuk mempertajam senjata.”

Akhirnya, senjata tersebut diasah di batu tersebut, sehingga semua senjata yang dibawa pasukannya berubah tajam. “Buah nangka yang tadinya susah dibelah, akhirnya mudah dibelah dengan senjata yang telah diasah atau di-kosek di batu tersebut. Atas kejadian itu, Pangeran Sambernyawa memberikan nama batu yang ada di sekitar sendang untuk mengasah senjata dengan nama Watu Kosek (batu tempat mengasah).”

Lebih lanjut Mulyanto menceritakan di tempat tersebut RM Said dan pasukannya berdiam diri agak lama, karena mendapatkan ketenangan hidup. Tempat tersebut, saat ini menjadi tempat berziarah di Wonogiri. bahkan, ujarnya, Waru Kosek juga dipercaya oleh masyarakat untuk mempertajam batin, sehingga bertambah tajam daya pikirannya.


Sumber:
http://www.solopos.com/, dalam:
http://arkeologi.web.id/articles/mitos-legenda-dan-tutur/1155-sejarah-watu-kosek-wonogiri
19 Juni 2010

Wonogiri Terima Rp 43 Miliar Dana PNPM Mandiri

Wilayah Kabupaten Wonogiri pada 2010 ini menerima alokasi anggaran dari pemerintah pusat untuk Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan senilai Rp 43 miliar. Alokasi dana itu lebih besar dari tahun 2009 lalu yang hanya Rp 41 miliar.

Dana senilai Rp 43 miliar tersebut akan dialokasikan di 23 kecamatan dengan nilai sekitar Rp 2 miliar per kecamatan dengan kriteria pembagian berdasarkan luas wilayah, jumlah penduduk, dan jumlah rumah tangga miskin (RTM).

Dana bantuan yang bersifat stimulus itu diharapkan bisa terserap seluruhnya seperti yang terjadi pada 2009 lalu, di mana tingkat penyerapan dana PNPM mencapai 100 persen. Dana itu antara lain digunakan untuk proyek fisik (peningkatan infrastruktur) sebesar 75% dan pengelolaan keuangan (simpan pinjam untuk kelompok perempuan) sebesar 25%.

“Pelaksanaan PNPM di wilayah kami memang tergolong bagus dan telah mampu meningkatkan swadaya masyarakat pedesaan. Rata-rata tingkat swadaya masyarakat di tiap-tiap desa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah,” ungkap Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapermas) Wonogiri, Harmadi, sesuai memberikan pengarahan pada pembukaan rapat koordinasi (Rakor) fasilitator PNPM Mandiri Perdesaan di Ruang Pertemuan Sekretariat Daerah (Setda) Wonogiri, Rabu (27/1).

Harmadi mengatakan, sejauh ini tidak ada kendala yang berarti dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan tersebut. Bahkan beberapa kecamatan meraih prestasi di tingkat nasional maupun provinsi dalam pelaksanaan PNPM tersebut. Karena itulah, Harmadi mengatakan, pihaknya sangat siap menyambut kedatangan tim peninjau dari Bank Dunia, Sabtu (30/1)-Minggu (31/1) ini.

Fasilitator Bidang Keuangan Koordinator PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Wonogiri, Andreas Tri Handono, menjelaskan prestasi dimaksud adalah Juara I tingkat nasional dalam bidang entrepreneurship yang diraih Kecamatan Batuwarno pada 2008 lalu dan juara III tingkat Provinsi Jateng dalam pencapaian surplus tertinggi untuk simpan
pinjam kelompok perempuan yang diraih Kecamatan Jatiroto.


Sumber :
http://www.pnpm-mandiri.org/index.php?option=com_content&task=view&id=527&Itemid=119
19 Juni 2010

Harimau Jawa Masih Ada di Wonogiri?


Harimau jawa (Panthera tigris sondaica) yang dianggap punah dilaporkan masih ada di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. "Harimau tersebut sudah jarang ditemukan, tetapi dari hasil keterangan warga di sekitar hutan Wonogiri masih ada," kata Asisten Perhutani (Asper) Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Wilayah Purwantoro, Kabupaten Wonogiri, Roby R, di Wonogiri, Selasa (9/2/2010).

Kucing besar itu diduga berada di kawasan hutan di bawah Perhutani BKPH Purwantoro seluas sekitar 4.800 hektar meliputi Kecamatan Kismantoro, Purwantoro, Slogoimo, dan Jatiroto. Menurut Roby, karena binatang itu tidak mengganggu kehidupan warga sekitar maka mereka tidak memburunya.

Adapun wilayah Perhutani di antaranya berupa hutan lindung yang masih memungkinkan dijadikan tempat tinggal harimau. Meski beberapa orang mengaku melihatnya, tetapi petugas Perhutani setempat yang memeriksa dan melaporkan rutin setiap tiga bulan tidak pernah menjumpai atau menyebutkan adanya harimau jawa.

"Petugas kami di lapangan hanya melaporkan hewan yang sering ditemui di hutan Wonogiri, antara lain kera, kijang, ayam hutan, dan burung betet. Tetapi mereka tidak pernah menemui harimau," katanya.

Dikatakan Roby, laporan resmi itu berbeda dengan cerita warga sekitar pertapaan Girimanik, Desa Kitren, Kecamatan Slogoimo, yang mengaku sering melihat harimau. "Harimau itu turun jika ada warga yang membuat api unggun di kawasan itu," katanya.

Asper BKPH Wonogiri Budi Rusmanto menjelaskan, petugas di lapangan tidak pernah melaporkan temuan harimau jawa karena mereka tidak pernah melihat secara langsung jenis binatang itu. Namun, katanya, pada tahun 2009 petugas mendapat informasi dari warga tentang seekor harimau relatif besar yang melintasi jalan di kawasan hutan setempat yang mereka sebut sebagai Alas Kethu, Kabupaten Wonogiri.

"Warga tidak tahu apakah itu macan tutul atau harimau jawa yang dikabarkan punah itu," katanya. Namun berdasar cerita warga, ia memperkirakan bahwa yang terlihat itu harimau jawa karena cirinya, antara lain, garis bulu berwarna kuning hitam.

Sejumlah warga sekitar Gunung Kotak, Kabupaten Wonogiri, menduga harimau jawa masih ada di kawasan perbatasan antara Wonogiri dan Ponorogo, Jawa Timur, itu.

Seorang warga RT 04 RW 05 Dukuh Growong, Desa Ngroto, Kecamatan Kismantoro, Wonogiri, Pomo (55), mengaku pernah melihat bekas telapak kaki harimau sebesar tangannya yang diduga jenis harimau jawa.

Warga setempat menyebut harimau jawa sebagai "macan gembong" yang memang merujuk pada harimau dan bukan macan. Informasi tentang kepunahan harimau jawa memang tampaknya masih simpang siur. Penelusuran di internet tentang kepunahan harimau jawa antara lain pada era 1980-an.

Masyarakat setempat, katanya, hingga saat ini masih yakin bahwa jenis harimau jawa itu masih ada di wilayahnya.


Sumber:
http://sains.kompas.com/read/2010/02/09/14302817/Harimau.Jawa.Masih.Ada.di.Wonogiri.
19 Juni 2010